|

Dari Banker Menjadi Baker: Kisah Diah Purwati Mengembangkan Bisnis Cemilan Sehat SweetKitchenDaily

Di pinggir jalan yang ramai, di bawah terik matahari yang kadang berganti hujan, Diah Purwati pernah berdiri sendiri di balik sebuah meja lipat kecil. Di atasnya, tersusun rapi potongan mille crepes buatan tangannya. Tak ada pendingin ruangan, tak ada rekan kerja berseragam rapi. Hanya dirinya, kue-kue buatannya, dan keyakinan bahwa hidup boleh—dan terkadang harus—berbelok arah.

Bertahun-tahun sebelumnya, Diah menjalani hidup yang sangat berbeda.

Setelah lulus dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia pada 2009, Diah memulai karier sebagai banker di sebuah bank BUMN. Dunia yang ia kenal saat itu adalah ruang kerja ber-AC, jam kantor yang teratur, dan kepastian penghasilan setiap bulan. Hidup berjalan rapi, nyaris tanpa celah.

Hingga suatu hari, dari dapur rumahnya sendiri, cerita lain mulai tumbuh.

Awalnya sederhana. Diah ingin membuat camilan untuk sang suami yang gemar ngemil. Setiap akhir pekan, ia mencoba berbagai resep kudapan. Dari percobaan-percobaan kecil itu, muncul keinginan untuk membuat camilan yang bukan hanya enak, tetapi juga lebih ramah untuk tubuh—rendah gula, tetapi tetap memanjakan lidah. Dari sanalah mille crepes pertamanya lahir.

Ketika hasil buatannya terlalu banyak untuk dihabiskan di rumah, Diah membagikannya kepada tetangga. Ia tak menyangka, kue-kue itu justru memantik sesuatu yang lebih besar.

Respons para tetangga datang dengan hangat dan spontan.

“Mbak Diah open PO dong, enak rasanya.”

“Mbak, ini kalau dijual harganya berapa? Mau lagi, ya, kalau buat.”

“Enak banget. Low sugar tapi tetap berasa. Cocok, nih, buat birthday cake anak.”

Dorongan-dorongan kecil itu perlahan menumbuhkan keberanian Diah. Berawal dari pesanan tetangga sekitar rumah, ia mulai membuka pre-order untuk teman-teman kantornya dan rekan kerja sang suami.

Di titik itu, Diah sebetulnya masih menganggap semuanya hanyalah kegiatan sampingan—pengisi waktu, pelepas penat dari rutinitas kantor.

Namun, semesta rupanya punya rencana lain.

Nasihat dari Ibunda

Di tengah kesibukannya bekerja dan membuat kue, Diah mendapat dukungan yang justru datang dari sosok paling dekat dengannya: sang ibunda. Alih-alih meminta Diah bertahan di dunia perbankan yang mapan, ibunya mendorong Diah untuk melihat hobinya sebagai sesuatu yang lebih serius.

Puncaknya, satu tahun sebelum wafat, sang ibunda berpesan agar Diah tidak lagi menjadi seorang banker.

Bagi Diah, itu bukan keputusan yang mudah. Empat belas tahun bekerja di bank bukan waktu yang singkat. Ada rasa aman, identitas diri, dan kebanggaan yang ikut melekat. Namun, setelah melalui pertimbangan panjang—dan dengan keyakinan untuk menghormati pesan terakhir ibunya—Diah memutuskan untuk melepas karier yang telah ia bangun selama lebih dari satu dekade itu.

Ia memilih jalan yang sama sekali baru.

Dari Pinggir Jalan Raya

SweetKitchenDaily resmi berdiri pada November 2022. Setelah keluar dari dunia perkantoran, Diah memulai langkah pertamanya sebagai pelaku usaha dengan menyewa lokasi bekas pedagang martabak. Di sanalah ia membuka lapak sederhana: sebuah meja lipat kecil di pinggir jalan raya.

Meski sudah memiliki pelanggan pre-order, menjalani usaha secara penuh waktu menghadirkan kenyataan yang jauh berbeda. Diah kini harus mengurus segalanya sendiri—dari produksi, penjualan, hingga bertahan dengan kondisi kerja yang tak lagi nyaman.

Tak ada lagi meja kerja atau rekan untuk berbagi cerita. Yang menemani hari-harinya hanyalah debu jalanan, terik matahari, dan hujan yang datang tanpa permisi. Dunia sosialnya pun berubah. Sahabat-sahabatnya bukan lagi perempuan karier dengan pakaian rapi, melainkan suasana keras pinggir jalan yang menuntut ketahanan fisik dan mental.

Di saat yang sama, Diah juga menghadapi tantangan lain yang lebih sunyi: gunjingan orang-orang.

“Dulu saat awal-awal merintis usaha sempat ditertawakan,” tuturnya.
“Beberapa orang bilang, ‘Sayang banget, lulusan UI ujung-ujungnya jualan kue di pinggir jalan. Panas-panasan. Mending dulu nggak usah kuliah tinggi-tinggi.’”

Komentar-komentar itu sempat melukai. Namun, setiap kali rasa goyah muncul, Diah teringat pesan ibunya. Tujuan berbisnis bukan semata soal untung, melainkan mencari keberkahan. Keyakinan itulah yang membuatnya tetap berdiri, meski sering kali sendiri.

Ketekunan Diah perlahan membuahkan hasil. Pelanggan mulai berdatangan. Banyak yang jatuh cinta pada ciri khas SweetKitchenDaily: crepes yang lembut, krim yang tidak berlebihan manisnya, serta tampilan kue yang cantik dan rapi.

Hingga pada satu titik, Diah mampu menyewa sebuah kontainer kecil sebagai tempat berjualan. Ia tak lagi harus bertaruh dengan cuaca. Sebuah kemajuan kecil, tetapi penuh makna.

Mimpi Kecil yang Terus Bertumbuh

Kini, SweetKitchenDaily telah berkembang menjadi outlet yang nyaman dan modern. Sebuah tempat di mana pelanggan bisa menikmati mille crepes handmade langsung di lokasi.

SweetKitchenDaily dapat ditemukan di Jl. Raya Curug, CFD Telaga Golf Sawangan, Depok, CFD Garden at Candi Sawangan, serta melayani penjualan pre-order di Jl. Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur.

Di lokasi-lokasi itulah, pelanggan tak hanya dapat membeli cemilan sehat, tetapi juga merasakan kehangatan yang sama seperti saat SweetKitchenDaily pertama kali lahir—kehangatan dari mimpi kecil yang dipelihara dengan keberanian, kesabaran, dan keyakinan.

Kisah Diah memberikan pelajaran bahwa hidup tidak selalu tentang bertahan di jalur yang paling aman. Kadang, ia justru menemukan maknanya ketika berani melangkah keluar—dan memulai semuanya dari nol.

SweetKitchenDaily

Similar Posts

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *